Anime dan Manga – Mencari Hiburan Halal

Beberapa waktu yang lalu seorang menanyakan tentang kisah Naruto kepadaku melalui status di FB. Hal ini mengingatkanku pada beberapa hal yang sempat aku renungkan, dan melalui artikel ini rasanya perlu aku sampaikan.

Anime, Manga, dan Light Novel merupakan genre hiburan yang aku sukai. Berbeda dari hiburan-hiburan asal barat, hiburan asal Jepang ini menawarkan cita rasa tersediri. Interaksi pertamaku dengan genre ini adalah melalui anime Doraemon yang ditayangkan salah satu TV swasta pada saat aku masih SD. Kegemaran kepada genre ini semakin menjadi setelah aku mengerti dunia internet. Sebelumnya aku hanya bisa menikmati anime yang ditayangkan di TV, atau dengan menyewa manga di rental. Dengan adanya internet, aku bisa mendapatkan berbagai anime dan manga terbaru, gratis.

Halal-trust

Halal?

Namun akhir-akhir ada hal yang mengusik fikiranku tentang hiburan ini; “sudahkah kita mendapatkannya dengan cara yang halal ?

Selama ini kita mendapatkan anime, manga, dan berbagai hiburan lain dari internet secara gratis. Tentu saja kita mendapatkan secara gratis karena yang kita ambil adalah anime dan manga yang diedarkan oleh fans. Tapi apakah hal itu halal ? Sebagaimana film, buku, komik, dan produk-produk lain, anime dan manga diedarkan oleh produsennya dengan ketentuan hak cipta (copyright). Di antara ketentuan hak cipta itu adalah dilarang memperbanyak, menjual, dan mengedarkan tanpa persetujuan dari produsen. Bisa dipastikan bahwa fans mengedarkan anime dan manga di internet tanpa persetujuan dari produsen. Dengan kata lain mereka melakukan pelanggaran hak cipta.

Copyright

Aku bukan ahli hukum, jadi tidak bisa bicara banyak tentang hak cipta. Sejauh yang aku ketahui, hak cipta hanya berlaku di negara di mana dia didaftarkan. Jadi, misal hak cipta manga Naruto hanya didaftarkan di Jepang, maka mengedarkan manga tersebut di Jepang tanpa persetujuan dari penerbit adalah tindakan ilegal dan bisa ditindak secara hukum. Akan tetapi mengedarkan manga Naruto di negara-negara  lain, meskipun masih tetap merupakan bentuk pelanggaran hak cipta, tapi tidak bisa ditindak secara hukum. Hal inilah yang menyebabkan peredaran anime dan manga “bajakan” di internet tetap semarak.

Tentu saja hak cipta adalah hukum legal yang diprakarsai dan dibuat oleh orang-orang kapitalis nonmuslim, jadi aku tidak begitu peduli. Akan tetapi kemudian aku berfikir, bagaimana Islam memandang masalah hak cipta ini? Kalau Islam memandang masalah hak cipta sesuai dengan hukum Islam, maka kita perlu memperhatikannya baik-baik. Dengan kata lain, jika Islam memandang hak cipta adalah sesuai dengan hukum Islam, maka pelanggaran hak cipta sama dengan pelanggaran hukum Islam.

Masalahnya, para ulama juga berbeda pendapat tentang hak cipta. Jika jelas hak cipta sesuai dengan hukum Islam, maka pelanggara hak cipta adalah tindakan haram, yang menyebabkan hasil dari tindakan tersebut adalah hasil yang haram. Dengan begitu, anime dan manga yang diedarkan oleh fans tanpa persetujuan dari penerbit adalah haram. Sebaliknya, jika hak cipta tidak sesuai dengan hukum Islam, maka anime dan manga yang diedarkan oleh fans adalah barang halal. Tentu saja yang dimaksud halal di sini adalah halal ditinjau dari sudut pandang cara memperolehnya. Kalau kita menilik pada substansi konten, maka bisa berbeda-beda hasilnya.

Subhat

Perbedaan pendapat ini membuat aku bimbang. Dalam sudut pandangku, anime dan manga yang diedarkan oleh fans menjadi barang subhat. Menanggapi masalah subhat, maka hadits dari Rasulullah SAW menjadi pedoman:

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Karena itulah, akhir-akhir ini aku semakin menjauhi anime dan manga. Bukan karena kegemaranku pada keduanya berkurang, akan tetapi karena aku tidak mau di akhirat nanti masuk ke neraka gara-gara nonton Naruto bajakan.

About these ads

3 thoughts on “Anime dan Manga – Mencari Hiburan Halal

  1. mas,maaf ini saya akan semakin membuat mas bingung,,
    1. saya mw tanya tentang film dan lagu” yang mas miliki, apa kah yang mas miliki itu juga dapatnya dengan proses halal?
    2.tengtang OS,yang sering di abaikan orang” dengan alasan gak mampu beli OS windows ORI,milih install wondows bajakan aja,nah OS mas pake Windows ORI atau GNU/Linux atau MAC atau windows bajakan?

    • Saya jawab pertanyaan nomor 2 dulu. Saya menggunakan Linux sebagai OS utama di laptop. Saya juga menginstall MS Windows dan MS Office orisinil yang saya peroleh melalui program Microsoft Bizpark (http://www.microsoft.com/bizspark/), tapi karena pekerjaan saya mengharuskan pakai Linux, ya Windows hampir gak pernah dipakai.

      Soal pertanyaan nomor 1, saya tidak suka denger musik, jadi gak ada koleksi musik. Soal anime, beda lagi. Justru itulah yang saya pertanyakan dalam artikel ini. Yang saya tahu adalah, saya memperoleh anime2 itu dengan melanggar hak cipta. Pertanyaanya, pelanggaran hak cipta itu dinilai halal ataukah haram dalam Islam ? Masalahnya, para ulama berbeda pendapat; ada yang menyatakan perlindungan hak cipta itu tidak sah dalam Islam, sementara sebagian yang lain menyatakan perlindungan hak cipta itu sah. Mana yang benar ? saya tidak tahu, karena itulah saya menulis blog ini, barangkali ada yg bisa menjawab.

      Di sisi lain, kalau kita mau mengkonsumsi anime secara legal, maka ada website2 yang menyediakan, hanya saja hanya tersedia di regional tertentu, misalnya http://www.crunchyroll.com/ untuk kawasan USA.

      Sebagai solusi atas ketidaktahuan saya itu, sembari “menunggu jawabab dari ahlinya”, dan juga sebagai bentuk kehati-hatian, maka saya sebisa mungkin mengurangi konsumsi anime dan manga. Dan ternyata bisa, meskipun harus diakui bukan hal yang mudah.

  2. Ah, iya saya juga pernah mikir begitu, bang. Tapi, waktu saya baca salah satu buku Hiroki Azuma “Japan’s animal database” (kalau g salah namanya gitu). Nah, si penulis bilang kalau anime itu hak kepemilikannya sudah blur…soalnya si author anime itu ngarang cerita, tokoh dll di suatu cerita anime dari “database” (istilahnya si Azuma). “Database” itu kumpulan data2 yg nyimpen art atau cerita yg biasanya digunakan si author. Mungkin terlihat banget di karya2 doujinshi yang nge-fan art-kan karya2 manga atau anime hits. Toh, kalau dilihat justru dari fansub2 gratis sama doujinshi anime dan manga jadi terkenal…aku nggak tahu apa islam itu lebih menekankan cara atau hasil (terlebih kalau hasilnya bener-bener positif).
    Nah, gara2 bukunya si Azuma itu…aku jadi bingung lagi soal hak cipta dan download anime gratis nih. -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s